Gastrodiplomacy Cireundeu

Berhenti
Budaya, Pangan, Pariwisata, Kuliner, Homestay
Elivas Simatupang
SDG's - Tanpa Kelaparan
Oecd -
RB Tematik -
RB Tematik - Prioritas Presiden
Penghargaan - Top 45/2019
Kompetisi -

Kurasi Ringkasan

                      Terbatasnya areal pertanian di perkotaan dapat mengancam ketahanan pangan oleh karenanya perlu dilakukan upaya perubahan paradigma dan pemahaman mengenai pangan. Ketahanan pangan berkaitan dengan budaya, persepsi dan kebiasaan. Upaya perubahan paradigma ini bisa dilakukan melalui diplomasi kuliner atau gastrodiplomacy. 
Di Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat terdapat sebuah komunitas warga adat yang tidak mengkonsumsi beras melainkan singkong beracun. Sebelum 2018 program ketahanan pangan Cimahi dilakukan dengan orientasi mempromosikan atau menjual keluar (outward) produk-produk Cireundeu. Strategi ini cenderung hanya menjadikan produk Cireundeu sebagai oleh-oleh dan terlepas dari pengembangan seni, budaya dan kearifan konservasi alam Cireundeu. 
Pada akhir tahun 2017 Litbang Bappeda Kota Cimahi merumuskan inovasi dengan menerapkan prinsip diplomasi kuliner yang lebih berorientasi ke dalam (inward) dengan cara melakukan brand activation wisata kuliner, berkesenian dan belajar kearifan pertanian, konservasi alam dan tinggal bersama warga adat di homestay. Untuk mengoptimalkan sumber daya baik SDM, anggaran maupun konsep dilakukan kerja sama dengan SKPD terkait, media, peneliti dari universitas dalam dan luar negeri, lembaga internasional seperti European Union, Value-chain Capacity Building Network (VCBN), komunitas adat dan organisasi keagamaan. 
Pembinaan di Cireundeu dilakukan dalam komunitas–komunitas dan pengelolaannya mengikuti kesepakatan adat. Hasilnya terjadi peningkatan sebesar 33% dalam jumlah kunjungan dan sebesar 50% per bulan dalam penjualan produk olahan Rasi. Meningkatnya kepuasan pengunjung dan durasi kunjungan wisatawan, tumbuhnya homestay, mulai rutinnya pertunjukan seni musik/ tari dan kegiatan konservasi alam/lingkungan. Pemahaman wisatawan akan pangan alternatif dan budaya yang menyertainya pun meningkat sebagai akibat dari pengalaman positif menginap di homestay warga Cireundeu. 
Untuk menjamin keberlanjutan disusun perda pusat budaya/pariwisata, pendaftaran akta notaris pendirian perkumpulan adat, fasilitasi kemudahan izin usaha homestay, pengembangan sistem usaha berbasis adat, pelatihan musik/tarian bagi anak-anak dan pemuda/i, dan pemberian beasiswa studi bidang seni dan budaya bagi pemuda adat (indegenous people). Untuk mengoptimalkan pengembangan Cireundeu perlu dilakukan perlindungan hutan adat dan optimalisasi seni pertunjukan musik dan tarian. Model Cireundeu dapat digunakan dalam membangun ketahanan pangan dan pariwisata khususnya di desa–desa di Indonesia dan luar negeri. Melihat umur peradaban dan keunikannya, inovator bercita–cita Cireundeu dapat menjadi Museum PaleoAnthropologi.
                    
        

Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya

  • Publikasi
  • Provinsi
  • SDG's
  • 18 Oct 2024
  • JAWA BARAT
  • Tanpa Kelaparan

0

0

  • Dilihat
  • Minat
  • Kesepakatan
  • Replikasi
  • 181
  • 0
  • 0
  • 0

Wilayah Instansi & Inovasi

Pemerintah Kota Cimahi

JAWA BARAT

Bidang Penelitian dan Pengembangan, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Hak Cipta(C)2022 - 2026 Etalase Pelayanan Publik dari Seluruh Daerah di Indonesia | Privacy Policy