Si MIDUN Chating Ke Faskes
Berjalan dengan pengembangan
Kesehatan, partisipasi masyarakat, kesehatan ibu dan anak
Isri Wahyuni Rahma Hani
SDG's - Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Oecd -
RB Tematik -
Peningkatan Investasi
Penghargaan - 15 FIN/2020
Kompetisi -
Kurasi Ringkasan
Awalnya Inovasi ini dinamai Strategi Kemitraan Dukun Kampung dan Bidan merujuk ibu bersalin ke Fasilitas Kesehatan (Si Midun ke Faskes). Lahir pada 2012 karena tingginya angka kematian ibu di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pada 2018, inovasi ini dikembangkan menjadi Strategi Kemitraan Dukun Kampung dan Bidan merujuk ibu bersalin ke Fasilitas Kesehatan (Si Midun Chating ke Faskes).
Pengembangan inovasi ini di dasari jumlah kasus stunting yang tinggi. Tercatat pada 2018 jumlah stunting di Kabupaten Hulu Sungai Selatan mencapai 1.400 balita. Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan kepercayaan masyarakat terhadap dukun kampung masih sangat tinggi menjadi salah satu penyebab. Sebagian besar masyarakat terutama yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah masih memegang teguh budaya, tradisi, dan adat istiadat.
Berangkat dari permasalahan inilah, Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan melakukan kolaborasi dengan dukun kampung dan bidan. Kolaborasi ini diwujudkan melalui Memorandum of Understanding (MoU), dimana dukun kampung yang merujuk ibu bersalin ke fasilitas kesehatan akan menerima insentif dari pemeritah daerah.
Pada praktiknya, ketika dukun kampung menerima kunjungan dari ibu hamil, ia akan menganjurkan ibu hamil itu untuk memeriksakan kehamilannya kepada tenaga kesehatan. Selain itu, dukun kampung juga akan memberikan informasi tentang makanan yang harus dikonsumsi oleh ibu hamil melalui media kantong cegah stunting sekaligus menganjurkan mereka membawa bayi dan anak balita ke posyandu penimbangan dan imunisasi,
Implementasi kemitraan bidan dengan dukun kampung ini dilaksanakan melalui beberapa tahap yaitu identifikasi masalah, penerbitan surat instruksi kepala Dinas Kesehatan tentang kemitraan bidan dan dukun kampong, lokakarya mini, penandatanganan kesepakatan komitmen kerja sama, pemantauan dan evaluasi yang dilakukan setiap bulan.
Tak dimungkiri, inovasi ini berhasil menurun angka kematian Ibu. Tercatat pada 2012 dari 12 orang (225 KH) turun menjadi 3 orang (94.1 KH) tahun 2023. Keberhasilan inovasi ini juga dapat dilihat dari peningkatan angka partisipasi masyarakat (cakupan penimbangan balita), berkunjung ke posyandu sebesar 68,53 % pada 2018 menjadi 98,5 % tahun 2023 dan peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap pada 2018 sebesar 81,3% menjadi 87,2 % tahun 2019, keberhasilan tersebut berujung pada penurunan jumlah angka stunting, dari 1.400 balita pada 2018 menjadi 572 balita pada 2023.
Inovasi ini juga menghasilkan efesiensi waktu dalam deteksi dini baik riwayat ataupun komplikasi yang menyertai kehamilan dan persalinan. Hal ini juga berdampak pada biaya persalinan yang menjadi lebih murah serta anggaran/pembiayaan daerah maupun perorangan ( ibu bersalin ) menjadi lebih hemat.
Inovasi ini tidak berhenti dengan adanya pergantian kepemimpinan kepala daerah karena sudah dijamin dengan adanya Peraturan Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan Nomor 4 Tahun 2012 tentang Kesehatan Ibu, Bayi Baru Lahir, Bayi dan Anak Balita, dan Peraturan turunannya. Melihat keberhasilannya, maka menjadi hal yang wajar bila muncul harapan inovasi ini dapat direplikasi oleh Kabupaten lain khususnya di Kalimantan Selatan yang memiliki kultur dan budaya yang sama.
Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya
- 03 Jul 2024
- KALIMANTAN SELATAN
- Kehidupan Sehat dan Sejahtera
- Dilihat
- Minat
- Kesepakatan
- Replikasi
Wilayah Instansi & Inovasi
Pemerintah Kabupaten hulu sungai selatan
KALIMANTAN SELATAN
Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan