RTK (Rumah Tunggu Kelahiran)
Berjalan dengan pengembangan
Kesehatan
dr Edwin Tomasoa, Cs
SDG's - Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Oecd -
RB Tematik -
Penghargaan -
Kompetisi -
Kurasi Ringkasan
Sebagai sebuah provinsi kepulauan, 90 persen wilayah Maluku adalah lautan dan 559 kepulauan. Dengan kondisi
geografis seperti ini, masyarakat di kepulauan Maluku sangat mengandalkan transportasi laut sebagai penghubung
utama dan bahkan satu-satunya bagi kebanyakan pulau kecil di sana. Ditambah kondisi cuaca yang tidak menentu,
akses untuk memenuhi pelayanan dasar publik, termasuk pelayanan kesehatan, menjadi tantangan tersendiri.
Kabupaten Kepulauan Tanimbar, memiliki luas 53.521 kilometer persegi dengan 88 persen wilayah laut. Kabupaten
Kepulauan Tanimbar berada di antara Laut Banda dan Laut Arafura membuat transportasi laut bagi sekitar 105 ribu
masyarakat yang hidup 57 pulau menjadi sangat bergantung pada musim dan perubahannya. Akibatnya, pada
musim-musim tertentu, sebagian besar masyarakat akan terisolir total atau harus membayar biaya transportasi
yang sangat mahal untuk dapat bepergian. Tidak sedikit korban yang timbul akibat kapal tenggelam atau terkatungkatung
di laut hingga ke perairan Australia dan Selandia Baru.
Pada November 2007 pemerintah Kabupaten MTB bersama UNICEF mengembangkan program pelayanan
kesehatan mandiri dengan pola pendekatan gugus pulau. Dengan pendekatan ini, Kabupaten MTB membagi wilayah
pelayanannya ke dalam dua gugus besar yaitu Gugus Tanimbar Selatan dan Tanimbar Utara. Setahun kemudian
diadakan kerja kelompok Gugus Pulau di Saumlaki dengan peserta Tim District Team Problem Solving (DTPS)
Kabupaten MTB, Kepala Puskesmas, dan Camat untuk menetapkan Kecamatan Selaru sebagai model Rumah
Tunggu pertama.
”Rumah Tunggu dibuat untuk mengatasi persoalan ‘Tiga Terlambat’ yaitu terlambat untuk mengetahui persoalan,
terlambat merujuk dan terlambat penanganan. ‘Tiga Terlambat’ inilah yang paling banyak menyebabkan ibu hamil
meninggal dunia,
Karena rumah yang menjadi Rumah Tunggu adalah milik masyarakat, tentu saja partisipasi aktif masyarakat
menjadi kunci utama pelayanan yang diberikan RumahTunggu. ”Kekuatan sosialisasi dan mobilisasi Rumah Tunggu
adalah pada pendekatan budaya, kekeluargaan dan agama”, Dalam budaya masyarakat di Yamdena, dikenal konsep
Duan Lolat, yaitu masyarakat merasa lebih nyaman untuk tinggal di rumah kerabat atau rumah saudaranya atau
bahkan di rumah orang yang memiliki satu bahasa. Demikianlah Rumah Tunggu yang digunakan adalah milik
anggota masyarakat agar ibu hamil dapat merasa lebih betah,
Konsep Duan Lolat, dimana keluarga atau kerabat membiayai biaya pernikahan salah seorang anggota keluarga,
juga dimanfaatkan untuk pengembangan biaya operasional Rumah Tunggu. ”Sekarang masyarakat diajak
menggunakan Duan Lolat untuk membiayai keluarga mereka yang sedang dirawat di Rumah Tunggu”, Penerapan
budaya setempat dalam mengelola program Rumah Tunggu ini turut meringakan beban pemerintah. ”Dana yang
dilaokasikan Pemerintah Kabupaten kemudian lebih difokuskan pada biaya operasional Rumah Tunggu selama
digunakan oleh ibu hamil. Masyarakat berkontribusi pada biaya pemeliharaannya”
Rumah Tunggu pertama kali didirikan di Kecamatan Selaru. Saat itu daerah ini mengalami angka kematian ibu dan
bayi yang cukup tinggi. Sebanyak 5 ibu dan 27 bayi meninggal dari tahun 2005 hingga 2007 saja. Sejak kehadiran
Rumah Tunggu di Selaru, angkat kematian bayi menurun hingga setengahnya di tahun 2009. Kehadiran Rumah
Tunggu terbukti membantu dalam menolong ibu yang beresiko tinggi melakukan persalinan dengan selamat. Angka
kematian ibu menurun demikian pula dengan kematian bayi yang baru dilahirkan. ”Melihat keberhasilan ini, pada
November 2011, kami mendirikan satu Rumah Tunggu lagi di Seira dan pada awal 2012 kami mendirikan di Larat”,
Salah satu perubahan yang baik pasca kehadiran Rumah Tunggu adalah meningkatnya kesadaran masyarakat untuk
menggunakan fasilitas kesehatan. ”Konsep pendekatan budaya dan agama memang sangat mengena di
masyarakat. Saat ini semakin banyak ibu hamil yang ingin melahirkan datang ke Rumah Tunggu atau Puskesmas,
terutama ibu-ibu yang tidak memiliki biaya untuk persalinannya”, Menyikapi meningkatnya jumlah ibu yang rutin
memeriksakan kehamilan dan siring dengan perluasan layanan Rumah Tunggu ke tiga lokasi di Yamdena, kini
Rumah Tunggu memiliki dua pusat rujukan. Untuk gugus Tanimbar Selatan pusat rujukan adalah RSUD PP Margreti,
sedangkan gugus Tanimbar Utara di Puskesmas Larat. Keberhasilan Rumah Tunggu masih diselimuti tantangan.
Besarnya biaya operasional yang mesti dikeluarkan selama ibu hamil menginap di Rumah Tunggu termasuk salah
satu di antaranya. ”Butuh kerjasama yang apik antara pemerintah dan masyarakat sendiri”,
Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya
- 26 Sep 2024
- MALUKU
- Kehidupan Sehat dan Sejahtera
- Dilihat
- Minat
- Kesepakatan
- Replikasi
Wilayah Instansi & Inovasi
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar
MALUKU
Dinas Kesehatan