BAKUL BAHALUI (Bersama Kita Rangkul Balita, Ibu Hamil dan Busui)
kesehatan
Puskesmas Haruai
SDG's - Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Oecd -
RB Tematik -
Peningkatan Investasi
RB Tematik - Prioritas Presiden
Penghargaan - INNOVATIVE GOVERNMENT AWARD 2022
Kompetisi -
Kurasi Ringkasan
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Kekurangan gizi pada usia dini meningkatkan angka kematian bayi dan anak, menyebabkan penderitanya mudah sakit dan memiliki postur tubuh tak maksimal saat dewasa.
Stunting terjadi mulai janin masih dalam kandungan dan baru nampak saat anak berusia dua tahun. Stunting pada balita perlu menjadi perhatian khusus karena dapat menghambat perkembangan fisik dan mental anak. Stunting berkaitan dengan peningkatan risiko kesakitan dan kematian serta terhambatnya pertumbuhan kemampuan motorik dan mental juga memiliki risiko terjadinya penurunan kemampuan intelektual, produktivitas, dan peningkatan risiko penyakit degeneratif. Anak stunting juga cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi, sehingga berisiko mengalami penurunan kualitas belajar di sekolah dan berisiko lebih sering absen, sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia. Periode yang sangat kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh status gizi ibu pada saat pra hamil, kehamilan dan saat menyusui. Periode kritis ini disebut dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dimana apabila seorang anak mengalami masalah gizi pada masa ini maka akan menimbulkan akibat yang permanen.
Prevalensi stunting pada balita berdasarkan hasil Riskesdas pada tahun 2013 prevalensi stunting sebanyak 37,2% dan pada tahun 2018 prevalensi ini menurun secara nasional menjadi 30,8% (Kemenkes, 2018). Pada 2018 Tabalong memiliki prevalensi stunting sebanyak 39%, 2019 sebesar 17,65% dan 2020 sebanya 11,69%, sedangkan untuk kecamatan Haruai pada tahun 2019 stunting sebanyak 10,33% menduduki peringkat ke empat tertinggi kejadian stunting untuk wilayah Kabupaten Tabalong dan dua desa di wilayah Haruai menjadi lokus dalam percepatan penanganan penurunan stunting.
Berdasarkan dari permasalahan tersebut, terbentuklah sebuah inovasi BAKUL BAHALUI (BERSAMA KITA RANGKUL BALITA, IBU HAMIL DAN BUSUI). Bakul sendiri merupakan bahasa daerah Banjar yang artinya wadah, tempat, ataupun tas yang di artikan sebagai tempat menampung segala permasalahan gizi bagi balita, ibu hamil, dan menyusui. Sedangkan Bahalui memiliki arti mengecil yang diharapkan permasalahan gizi yang di alami oleh balita, ibu hamil dan menyusui di wilayah Puskesmas Haruai dapat menurun. Inovasi ini berkegiatan dengan melakukan kunjungan rumah pada balita yang bermasalah seperti balita BGM (Bawah Garis Merah) dan stunting, sedangkan fokus pada ibu hamil adalah ibu hamil yang mengalami KEK (Kurang Energi Kronik) ditandai dengan LiLA (Lingkar Lengan Atas) kurang dari 23 cm dan untuk ibu menyusui yang mengalami KEK. Data sasaran yang akan dilakukan kunjungan rumah didapatkan dari hasil E-PPGBM maupun laporan dari koordinator bidan, kemudian dilakukan kunjungan rumah pada sasaran bersama petugas gizi dengan bidan desa/koordinator, Promkes dan Sanitarian, maupun dokter. Sedangkan dari lintas sektoral didampingi kader posyandu atau Kader Pembangunan Manusia (KPM) desa maupun aparat desa (kepala desa, PKH).
Kegiatan ini dimulai dengan mengunjungi rumah sasaran, petugas gizi akan melakukan pengukuran antropometri dilanjutkan dengan memberi konseling bersama bidan mengenai gizi seimbang, PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak), makanan yang baik untuk ibu hamil dan menyusui, serta cara menyusui yang baik, dilanjutkan petugas promkes dan sanitarian akan melakukan pengecekan mengenai hygiene sanitasi. Sedangkan aparat desa maupun kader melakukan pendampingan saat kunjungan. Terakhir diberikan makanan tambahan dan penempelan stiker BAKUL BAHALUI didepan rumah agar mudah untuk melakukan monitoring selanjutnya.
Inovasi BAKUL BAHALUI yang dilaksanakan ini terbilang berhasil, dibuktikan dengan pada tahun 2021 wilayah Puskesmas Haruai bebas dari lokus stunting dan penurunan angka kejadian stunting dari tahun 2019 10,33% menjadi 9,20%, diharapkan dengan adaanya inovasi ini masyarakat dapat dan mampu memahami mengenai pola asuh yang baik dan benar serta menerapkan gizi seimbang.
Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya
- 27 Sep 2024
- KALIMANTAN SELATAN
- Kehidupan Sehat dan Sejahtera
- Dilihat
- Minat
- Kesepakatan
- Replikasi
Wilayah Instansi & Inovasi
Pemerintah Kabupaten tabalong
KALIMANTAN SELATAN
Puskesmas Haruai