CERITA SARAS
Berjalan
kesehatan
Drg. Ulfa Muthita Palar
SDG's - Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Oecd -
RB Tematik -
RB Tematik - Prioritas Presiden
Penghargaan - INNOVATIVE GOVERNMENT AWARD 2022
Kompetisi -
Kurasi Ringkasan
Anemia merupakan salah satu penyakit yang umum diderita masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali pada remaja. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwa sebesar 32% remaja Indonesia menderita anemia, mulai dari yang sedang, ringan hingga berat. Aartinya 3 - 4 dari 10 remaja di Indonesia menderita anemia. Anemia dapat terjadi karena kebiasaan asupan makan yang kurang adekuat terutama pada makanan yang mengandung zat besi. Di lain sisi masih banyak masyarakat yang belum teredukasi mengenai gejala, dampak, dan penanggulangan anemia. Anemia sendiri merupakan suatu kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari ambang batas normal. Pada anak anak usia 5 11 tahun ambang batas normal Hb dalam darah adalah 11,5 g/dl. Sedangkan pada anak usia 12 - 14 tahun adalah 12 g/dl. Tubuh yang kekurangan sel darah merah dalam hal ini Hb maka kemampuan sel darah merah dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh menjadi tidak maksimal. Gejala yang dirasakan biasanya mudah lelah, pusing, sakit kepala dan wajah, mata, bibir, kuku terlihat pucat atau yang sering disebut dengan 5L : letih, lemah, lesu, lelah, lalai. Remaja merupakan salah satu kelompok usia yang rentan menderita anemia, terutama pada remaja putri. Hal ini bisa disebabkan karena remaja putri mengalami menstruasi setiap bulannya, dalam masa pertumbuhan yang cepat sehingga membutuhkan asupan gizi yang lebih banyak. Remaja merupakan usia produktif sedangkan beberapa tahun kedepan Indonesia mendapatkan bonus demografi dimana penduduk usia produktif termasuk di dalamnya remaja lebih banyak dibanding usia non produktif. Apabila remaja sebagai generasi penerus mengalami anemia maka akan memiliki dampak yang luar biasa bagi masa depan bangsa. Remaja putri inilah kelak akan diharapkan menghasilkan generasi-generasi yang unggul, sehat, cerdas dan produktif. Oleh sebab itu perlu adanya pemahaman dan edukasi kepada masyarakat terutama remaja akan pentingnya pencegahan dan penanggulangan anemia. Pencegahan anemia bisa dilakukan dengan memenuhi asupan zat gizi terutama yang mengandung zat besi dan mengkonsumsi suplemen tablet tambah darah secara rutin dan berkala. Upaya ini telah dilakukan oleh puskesmas dalam program Gizi melalui pemberian Tablet Tambah Darah (TTD). Sejak masa pandemi Covid-19 banyak kegiatan sosial masyarakat yang dibatasi agar dapat membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19, termasuk didalamnya kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Hal ini juga berimbas pada kegiatan distribusi dan pemantauan Tablet Tambah Darah di sekolah sekolah yang merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan status gizi para siswa dalam hal ini remaja putri. Oleh sebab itu, perlu kiranya dibuat sebuah inovasi agar kegiatan distribusi dan pemantauan Tablet Tambah Darah tetap berjalan meskipun masih dalam masa pandemi Covid19. Puskesmas Ciomas menyikapi kondisi tersebut dengan membuat inovasi SARAS CERITA (Sahabat Remaja Ciomas Cerdas Sehat Tanpa Anemia) melalui pemanfaatan teknologi dalam pemantauan konsumsi TTD. Kegiatannya dengan melaksanakan sosialisasi terkait metode pendistribusian dan konsumsi rutin mingguan tablet tambah darah bagi remaja putri. Pendistirbusian tablet tambah darah dilakukan di sekolah dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Petugas melakukan pemantauan konsumsi rutin mingguan melalui google form dimana remaja putri diminta mengisi absensi konsumsi rutin Tablet Tambah Darah yang telah didapatkan.
Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya
- 23 Sep 2024
- JAWA BARAT
- Kehidupan Sehat dan Sejahtera
- Dilihat
- Minat
- Kesepakatan
- Replikasi
Wilayah Instansi & Inovasi
Pemerintah Kabupaten Bogor
JAWA BARAT
PUSKESMAS Ciomas