MAKAN PALIAT (Mari Budayakan Peduli Lingkungan Sehat)

kesehatan
puskesmas kelua
SDG's - Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Oecd -
RB Tematik - Peningkatan Investasi
Penghargaan - INNOVATIVE GOVERNMENT AWARD 2022
Kompetisi -

Kurasi Ringkasan

                      Berdasarkan paradigma sehat, ada 3 pilar yang perlu mendapat perhatian khusus, salah satunya lingkungan sehat. Terciptanya lingkungan sehat tentu saja tidak terlepas dari permasalahan pengelolaan sampah. Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga menargetkan pengurangan sampah hingga 30% pada 2025 dan penanganan tumpukan sampah sebesar 70% pada 2025. Sementara itu, menurut Kementerian Lingkungan Hidup, rumah tangga merupakan penyumbang sampah terbesar yaitu sebanyak 48%.
Desa Sungai Buluh, salah satu desa yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kelua juga mengalami permasalahan serupa. Masyarakat Desa Sungai Buluh yang terletak di daerah aliran sungai ini selain masih memiliki kebiasaan membuang sampah ke sungai, juga tidak terbiasa melakukan pemilahan jenis sampah. Kondisi ini juga diperburuk dengan tidak adanya rute Truk Sampah dari Dinas Lingkungan Hidup yang melewati desa ini. Oleh karena itu, banyak terdapat sampah bertebaran terutama sampah plastik, kayu, dan sisa makanan di berbagai titik di Desa Sungai Buluh.
Berdasarkan permasalahan tersebut, Puskesmas Kelua membuat sebuah inovasi yang disebut dengan MAKAN PALIAT (Mari Budayakan Peduli Lingkungan Sehat). Makan Paliat merupakan sebuah inovasi komprehensif yang melibatkan banyak sektor dan pemangku kepentingan. Inovasi ini dimulai dengan peningkatan pengetahuan tentang cara memilah sampah yang baik dan benar oleh sanitarian puskesmas. Edukasi ini dilakukan baik melalui penyuluhan langsung, leaflet, pemutaran TV spot di Puskesmas dan lainnya. Selanjutnya, Puskesmas bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup juga mengawasi kegiatan pengelolaan sampah termasuk tentang pengelolaan bank sampah. Inovasi ini juga disambut baik oleh aparat desa dan masyarakat Desa Sungai Buluh. Melalui keberpihakan anggaran, desa mengalokasikan dana untuk pengelolaan sampah seperti membuat sampah rumah tangga di setiap halaman penduduk, membeli kendaraan untuk mengangkut sampah dari rumah penduduk ke TPS terdekat, dan membayar honor pengangkut sampah. Peran serta masyarakat juga dapat terlihat dari adanya masyarakat yang menghibahkan tanah untuk menjadi penyediaan tempat bank sampah sementara sebelum dibawa ke bank sampah di ibukota Kabupaten. Berkat adanya bank sampah ini, masyarakat tidak lagi membuang sembarangan dan mengupayakan agar sampah dapat dijual untuk peningkatan perekonomian masyarakat Desa Sungai Buluh. Inovasi ini juga diperkuat dengan komitmen bersama dengan lintas sektor dan masyarakat.
Hasil inovasi MAKAN PALIAT dapat terlihat dari perubahan perilaku masyarakat yang mulai terbiasa memilah sampah sebelum dibuang dan peningkatan jumlah masyarakat yang menjual ke bank sampah dari 15 orang (400kg sampah) saat inovasi ini dimulai menjadi 166 orang (6233kg sampah) saat inovasi ini telah berjalan setahun. Sejak ada inovasi ini, secara otomatis tumpukan sampah menjadi kurang dan sungai menjadi bersih. Melalui penjualan di bank sampah, desa sudah bisa membeli sendiri BBM untuk operasional sarana pengangkut sampah dan sebagiannya disisihkan untuk membiayai panti singgah yang menampung anak-anak tidak mampu agar mereka tidak putus sekolah
                    
        

Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya

  • Publikasi
  • Provinsi
  • SDG's
  • 28 Sep 2024
  • KALIMANTAN SELATAN
  • Kehidupan Sehat dan Sejahtera

0

0

  • Dilihat
  • Minat
  • Kesepakatan
  • Replikasi
  • 81
  • 0
  • 0
  • 0

Wilayah Instansi & Inovasi

Pemerintah Kabupaten tabalong

KALIMANTAN SELATAN

Puskesmas Kelua

Hak Cipta(C)2022 - 2026 Etalase Pelayanan Publik dari Seluruh Daerah di Indonesia | Privacy Policy