PECINTA DRAKOR

Berjalan
kesehatan, stunting, PMT, daun kelor
dr. Erlina Sri Lestari
SDG's - Kehidupan Sehat dan Sejahtera
Oecd -
RB Tematik - Penyelesaian Kemiskinan
RB Tematik - Prioritas Presiden
Penghargaan - INNOVATIVE GOVERNMENT AWARD 2022
Kompetisi -

Kurasi Ringkasan

                      A. Dasar Hukum
1. Surat Keputusan Kepala Puskesmas Bagoang No. 445/ -SK/PkmBag/II/2020 tentang Tim Program Inovasi PECINTA DRAKOR.
2. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak

B. Permasalahan

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan oleh multi- faktorial dan bersifat antar generasi. Di Indonesia masyarakat sering menganggap tumbuh pendek sebagai faktor keturunan. Persepsi yang salah di masyarakat membuat masalah ini tidak mudah diturunkan dan membutuhkan upaya besar dari pemerintah dan berbagai sektor terkait. Hasil studi membuktikan bahwa pengaruh faktor keturunan hanya berkontribusi sebesar 15%, sementara unsur terbesar adalah terkait masalah asupan zat gizi, hormon pertumbuhan dan terjadinya penyakit infeksi berulang. Stunting pada anak-anak dikaitkan dengan kemiskinan yang pada akhirnya terjadi tinggi dan berat badan yang kurang pada saat dewasa, mengurangi kebugaran otot dan kemungkinan juga pada saat kehamilan yang meningkat kejadian berat lahir rendah. Bukti menunjukkan bahwa anak-anak stunting juga lebih cenderung memiliki pendidikan yang rendah, yaitu faktor langsung atau tidak karena faktor gizi atau pengaruh lingkungan. Stunting pada masa kecil mungkin memiliki dampak besar pada produkvitas pada saat dewasa, meskipun data statistic yang sulit ditemukan.
Salah satu tantangan utama yang saat ini dihadapi sektor kesehatan di
Indonesia adalah kekurangan gizi anak kronis. Meskipun banyak perkembangan dan
kemajuan kesehatan telah dilakukan di Indonesia selama beberapa tahun terakhir,
namun masalah stunting tetap signifikan. Pertumbuhan stunting menggambarkan
suatu kegagalan pertumbuhan linear potensial yang seharusnya dapat dicapai, dan
merupakan dampak dari buruknya kesehatan serta kondisi gizi seseorang. Penanggulangan balita gizi kurang dilakukan dengan pemberian makanan
tambahan. Formula yang diberikan pada penderita gizi buruk mengacu pada
standar WHO yang terdiri dari susu, minyak, gula, tepung, dan air. Pemberian
Makanan Tambahan (PMT) yang diberikan selain formula WHO, yaitu formula
modifikasi berupa formula yang cukup padat energi dan protein, terdiri dari bahan
yang mudah diperoleh di masyarakat dengan harga terjangkau.
Banyaknya ditemukan kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Bagoang,
yaitu di Desa Pangaur sebanyak 7 anak, Desa Bagoang sebanyak 5 anak, Desa
Barengkok sebanyak 5 anak, dan Desa Neglasari sebanyak 5 anak pada bulan Maret
2020. Menyikapi kondisi tersebut, Puskesmas Bagoang perlu membuat terobosan
baru dalam upaya pencegahan stunting di wilayahnya berdasar pada anjuran WHO
yaitu pemberian PMT dengan formula modifikasi.
Melihat zat gizi yang tinggi pada daun kelor dan kemudahan untuk
memperolehnya di masyarakat, maka dibentuklah inovasi PECINTA DRAKOR
(Pencegahan Stunting Pada Anak Dengan Makanan Tambahan "Egg Roll" Dari Daun Kelor) yaitu upaya pencegahan dan penanggulangan stunting dengan pemberian
makanan tambahan modifikasi berupa egg roll yang terbuat dari daun kelor. Inovasi ini didasarkan rekomendasi hasil penelitian yang menyebutkan bahwa konsumsi daun kelor merupakan salah satu alternatif untuk menanggulangi kasus kekurangan gizi di Indonesia. Vitamin A yang terdapat pada serbuk daun kelor setara dengan 10 (sepuluh) kali vitamin A yang terdapat pada wortel, setara dengan 17 (tujuh belas) kali kalsium yang terdapat pada susu, setara dengan 15 (lima belas) kali kalium yang terdapat pada pisang, setara dengan 9 (sembilan) kali protein yang terdapat pada yogurt dan setara dengan 25 (dua puluh lima) kali zat besi yang terdapat pada bayam. Oleh karena itu, informasi terkait manfaat tanaman kelor bagi perbaikan gizi perlu disosialisasikan kepada masyarakat agar dapat dibudidayakan secara luas dan dimanfaatkan secara optimal.

C. Isu Strategis
Keadaan gizi yang baik merupakan syarat utama dalam mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas. Masalah gizi dapat terjadi di setiap siklus kehidupan, dapat terjadi sejak dalam kandungan (janin), bayi, dewasa atau usia lanjut. Periode dua tahun pertama kehidupan merupakan masa kritis, karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Gangguan gizi yang terjadi pada periode ini bersifat permanen, tidak dapat dipuluhkan walaupun kebutuhan gizi pada masa selanjutnya terpenuhi.
Menurut data dari WHO, di seluruh dunia, 178 juta anak di bawah usia lima tahun diperkirakan mengalami pertumbuhan terhambat karena stunting. Stunting adalah permasalahan gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam rentang yang cukup waktu lama, umumnya hal ini karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Permasalahan stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru akan terlihat ketika anak sudah menginjak usia dua tahun.
Bagi UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi badan di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis), hal ini diukur dengan menggunakan standar pertumbuhan anak yang dikeluarkan oleh WHO. Selain mengalami pertumbuhan terhambat, stunting juga kerap kali dikaitkan dengan penyebab perkembangan otak yang tidak maksimal. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan mental dan belajar tidak maksimal, serta prestasi belajar yang buruk.
Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin telah terjadi di masa lalu seorang. Adapun gejala stunting antara lain:
1. Anak berbadan lebih pendek untuk anak seusianya
2. Proporsi tubuh cenderung normal tetapi anak tampak lebih muda/kecil untuk usianya
3. Berat badan rendah untuk anak seusianya
4. Pertumbuhan tulang tertunda
Diakibatkan oleh asupan gizi yang kurang, mencegah Stunting tentu dapat dilakukan dengan memenuhi kebutuhan gizi yang sesuai. Dampak Stunting
umumnya terjadi karena diakibatkan oleh kurangnya asupan nutrisi pada 1.000 hari
pertama anak. Hitungan 1.000 hari di sini dimulai sejak janin sampai anak berusia
2 tahun. Jika pada rentang waktu ini, gizi tidak dicukupi dengan baik, dampak yang
ditimbulkan memiliki efek jangka pendek dan efek jangka panjang. Gejala stunting
jangka pendek meliputi hambatan perkembangan, penurunan fungsi kekebalan,
penurunan fungsi kognitif, dan gangguan sistem pembakaran. Sedangkan gejala
jangka panjang meliputi obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung
koroner, hipertensi, dan osteoporosis.
A. Metode Pembaharuan

Pecinta Drakor merupakan kepanjangan dari pencegahan stunting pada anak dengan makanan tambahan Egg Roll dari daun kelor yaitu upaya pencegahan dan penanggulangan stunting dengan pemberian makanan tambahan modifikasi berupa egg roll yang terbuat dari daun kelor sebagai kegiatan membuat makanan tambahan dan dibagikan kepada anak yang stunting yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bagoang. Makanan tambahan berupa kue Egg Roll yang dibuat dengan bahan tambahan bubuk daun kelor.

B. Keunggulan 
Keunggulan dari inovasi ini adalah pencegahan dan penanggulangan stunting dengan pemberian makanan tambahan modifikasi berupa egg roll yang terbuat dari daun kelor sebagai kegiatan membuat makanan tambahan dan dibagikan kepada anak yang stunting yang ada di wilayah kerja Puskesmas Bagoang. Makanan tambahan berupa kue Egg Roll yang dibuat dengan bahan tambahan bubuk daun kelor.
                    
        

Daftar / Masuk
untuk melihat informasi selengkapnya

  • Publikasi
  • Provinsi
  • SDG's
  • 21 Sep 2024
  • JAWA BARAT
  • Kehidupan Sehat dan Sejahtera

0

0

  • Dilihat
  • Minat
  • Kesepakatan
  • Replikasi
  • 69
  • 0
  • 0
  • 6

Wilayah Instansi & Inovasi

Pemerintah Kabupaten Bogor

JAWA BARAT

Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Perindustrian

Hak Cipta(C)2022 - 2026 Etalase Pelayanan Publik dari Seluruh Daerah di Indonesia | Privacy Policy